Oleh : Ust Mukhtasor
Di Asrama PPSDMS Regional IV Surabaya
Membicarakan kepemimpinan terutama yang menyangkut peradaban,terdapat fase-fase yang mengikutinya silih berganti. Fase-fase tersebut adalah ketika naik, fase konstan, dan fase turun. Setiap peradaban pastinya pernah mengalami ketiga fase tersebut. Tinggal yang mana, seperti apa, dan berapa lama setiap fase itu terjadi pada peradaban tersebut. Semua itu bergantung pada karakter apa yang lebih mendominasi di kala itu.
Saat peradaban tersebut dalam fase naik. Rukhiyahlah yang mendominasi atas kenaikkannya. Kekuatan rukhiyah berdampak luarbiasa terutama pada insan di dalamnya. Dengan kkuatan rukhiyah orang akan tegar dalam ujian, mentalnya lebih kuat, karena mental dapat berperan penting dalam kesuksesan. Maka wajar pade fase ini etos kerja juga meningkat.
Dominasi rasional merupakan penyebab dimana suatu peradaban mengalami kekonstanan. Bisa terjadi akrena semakin luasnya wilayah dan pengikut. Hal ini membuat peradaban lebih sulit diawasi karena lebih heterogen dan kurangnya komunikasi yang memadai. Semua hal pada masa ini diputuskan dengan cara-cara manusia, hasil akan sesuai dengan bagaimana input diberika, untung rugi yang jadi pedoman, danlain sebagainya. Sehingga terjadi kehilangan jati diri untuk percaya pada tangan-tangan halus yang dalam hal ini adalah Allah, tuhan Semesta Alam.
Fase yang ketiga yaitu fse turun lebih didominasi oleh faktor-faktor syahwat. Nafsu yang terkendali akan membuat semau pekerjaan dilakukan tanpa pemikiran dan pertimbangan yang matang yang akan berakibat pada kesalahan, kerugian, bahkan mungkin kehancuran. Hal ini karena pikiran dan hati kita hanya dipenuhi nafsu-nafsu syahwat saja sehingga kinerjanya menjadi berkurang.
Sebaiknya antara rukhiyah, rasionalitas, dan syahwat dalam hal ini yang positif berjalan atau dijalankan secara seimbang. Karena kesemuanya memilki kelamahan dan kelebihan yang saling menutupi. Namun adakalanya kita ingin meningkat, ingin selalu menanjak dengan konstan dan rapi. Maka rukhiyah kita harus selalu kita bangun. Salah satu prinsip dasarnya adalah dengan sabar.
Sabar
Sabar bisa diartikan sebagai proses menahan diri untuk mendapatkan sesuau yang kita ingini, sesuatu yang lebih baik. Sabar inilah yang kita pakai sebagai prinsip agar kita tetap selalu konsisten atau istiqomah dalam menjaga kondisi rukhiyah kita. Sabar bukan hanya harus menerima segala sesuatunya dengan lapang dada. Sabar bukan berarti kita harus selalu menjadi yang kalah atau yang dikuasai. Tapi tenag saja, Allah selalu bersama kita. Dalam Kalam IlahiNya, Allah menjelaskan bahwa dia akan senantiasa bersama orang-orang yang sabar.
Orang-orang yang tidak sabar biasanya akan lebih mudah untuk melakukan keslahan. Bukan disebabkan ketidaksengajaan atau ketidaktauan, namunlebih kepada kecenderungan untuk melakukan. Inilah ishzal, yaitu sikap terburu-buru dalam mengambil sebuah keputusan atau melakukan sesuatu.