Kita tentu tidak akan pernah lupa dengan Belanda. Bangsa yang telah menjajah tanah air kita selama kurang lebih 350 tahun. Belum kering keringat para pejuang kita selama itu untuk membela tanah air, penjajah berpindah tangan kepada Jepang yang hanya mampu bertahan selama 3,5 tahun. Belum hilang pula ingatan kita tentang kerja rodi, romusha, atau tanam paksa yang diberlakukan pada rakyat kita. Itu adalah segelintir bentuk penjajahan yang dilakukan para penjajah kepada bangsa kita. Penjajahan untuk menguasai tanah air kita, mengeruk rempah-rempah kita, dan merendahkan kita begitu saja.
Saat ini, Indonesia adalah Negara yang akan genap berusia 62 tahun pada bulan Agustus ini. Lima puluh dua tahun merdeka ternyata belum cukup untuk membuat Indonesia menjadi Negara yang benar-benar “Merdeka”. Indonesia kaya akan sumber daya alamnya, tapi seolah menjadi tamu di rumah sendiri, karana justru sedikit hasil alam yang dapat kita nikmati. Dengan demikian, ada beberapa persamaan dalam hal ketertindasan antara kondisi sekarang dengan masa penjajahan dahulu.
Kita dapat melihat saudara-saudara kita yang tinggal di bantaran kali, di bawah jembatan atau di pinggiran TPA, kemiskinan masih ada di mana-mana. Kita juga tau masyarakat pedesaan yang masih banyak tidak mengenal akan kemajuan bangsa. Lalu kita juga dapat melihat teman-teman kita yang tidak dapat bersekolah lagi sehingga harus mengamen, mengemis, bahkan mencuri. Melihat kondisi di atas dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahan bangsa ini sebenarnya tidak akan terjadi bila kita mampu mengelola bangsa kita dengan baik. Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang kiranya cukup untuk menghidupi bangsa ini.
Salah satu bentuk penjajahan yang tampak jelas saat ini adalah dalam bidang pertambangan. Tidak hanya satu atau dua perusahaan asing telah mengeruk hasil bumi kita untuk mereka nikmati sebagian besarnya. Selain hanya menerima sebagian kecil saja, kita pun harus menanggung dampak buruk dari pertambangan tersebut. Padahal kita sadar bahwa hasil bumi yang mereka ambil sepenuhnya mili8k kita. Setidaknya PT Freeport Indonesia merupakan satu diantara perusahaan tersebut. Perusahaan yang telah bergelimang emas dari bumi Papua.
Pengeruk Emas Terbesar
PT Freeport adalah perusahaan tambang raksasa yang berpusat di New Orleans, AS. Perusahaan ini dipimpin oleh James R Moffet. Perusahaan ini merupakan satu-satunya yang mendapatkan konsesi dari pemerintah Indonesia untuk mengeksploitasi kandungan emas, tembaga, perak, dan sumber daya tmbang lainnya di Papua. Perusahaan Amerika ini adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.. Perusahaan ini adalah pembayar pajak terbesar kepada Indonesia dan merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. Freeport Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua, masing-masing tambang Erstberg (dari 1967) dan tambang Grasberg (sejak 1988), di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. (Wikipedia Indonesia).
Freeport berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan 2,3 miliar dolar AS. Menurut Freeport, keberadaannya memberikan manfaat langsung dan tidak langsung kepada Indonesia sebesar 33 miliar dolar dari tahun 1992-2004. Angka ini hampir sama dengan 2 persen PDB Indonesia. Dengan harga emas mencapai nilai tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yaitu 540 dolar per ons, Freeport diperkirakan akan mengisi kas pemerintah sebesar 1 miliar dolar. Walaupun begitu, angak tersebut baru 1 % dari anggaran negara.
Padahal menurut catatan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sejak 1991 hingga tahun 2002, PT Freeport memproduksi total 6.6 juta ton tembaga, 706 ton emas, dan 1.3 juta ton perak. Dari sumber data yang sama, produksi emas, tembaga, dan perak Freeport selama 11 tahun setara dengan 8 milyar US$. Sementara perhitungan kasar produksi tembaga dan emas pada tahun 2004 dari lubang Grasberg setara dengan 1.5 milyar US$. Keuntungan yang diperoleh Freeport McMoran mencapai saja 380 juta dollar lebih pada tahun 2004 saja. Tentu ini jauh lebih kecil dibanding yang diberikan ke Indonesia sebesar 2% dari penghasilan Freeport di luar pajak. Bayangkan penghasilan Freeport pada tahun 2004 tersebut jika dikalikan dengan lamanya kontrak dengan Indonesia yang diperpanjang 25 tahun kedepan sejak tahun 2003. (Walhi, 2006)
Itu baru segelintir ketundukan pemerintah kita pada Freeport yang justru semakin membuat negara ini miskin. Memang kita sudah banyak melihat pembangunan di Papua dan di Timika khususnya. Pemberdayaan masyarakat sekitar, bantuan beasiswa, dan pengabdian kepada masyarakatnya juga telah dilakukan Freeport dan itu memang sudah menjadi keharusan. Namun terdapat beberapa fakta menyedihkan di balik itu semua.
Dampak Sosial Masyarakat
Sebenarnya kekayaan bumi Papua memberikan PAD sebesar 70% untuk Papua dan 98% nya untuk Timika. Namun jumlah tersebut tidak mempunyai pengaruh berarti bagi Indonesia. Meskipun PDB (Pendapatan Domestik Bruto) Papua berada di nomor 3 se Indonesia, tapi Indeks Penbangunan Manusia (IPM) Papua berada di nomor 29 dari 30 propinsi. Selain itu, angka kematian ibu dan bayi di Papua tetap tinggi. Angka anak busung lapar dan kekurangan gizi juga memprihatinkan. (Sabili, 23 Februari 206)
Dampak sosial lainnya dari keberadaan PT Freeport selama ini juga tidak bisa dianggap remeh. Berlimpahnya uang dan semakin modernnya daerah disekitar Penambangan memunculkan bisnis prostitusu. Parahnya lagi, bisnis esek-esek ini justru meningkat setiap tahunnya. Sebagai bukti adalah Kota Timika sebagai ikon Freeport telah dinobatkan menjadi kota dengan penderita HIV/AIDS terbanyak di Indonesia.
Bagi penduduk local; gunung, sungai, hutan memiliki nilai-nilai sosial dan budaya serta tradisi yang kuat. Namun ketika mereka bereaksi terhadap jerusakan-kerusakan yang terjadi malah ditanggapi dengan kekerasan dan intimidasi oleh aparat militer yang menjaga Freeport. (Sabili, 23 Februari 206).
Kerusakan Pada Lingkungan
Setiap perusahaan pastilah menghasilkan suatu buangan dari sisa-sisa produksi. Begitu juga dengan PT Freeport, sebagai penambang besar pastilah menghasilkan limbah yang besar pula. Berikut ini adalah Rinciannya :
-
-
-
-
Terdapat lubang beear dengan diameter dan kedalaman yang besar pula, padahal dulunya daerah itu adalah pegunungan.
-
Freeport telah menghasilkan galian berupa potential acid drinase (air asam tambang) dan limbah tailing ( butiran pasir alami yang halus hasil pengolahan konsentrat)
-
Walaupun tailing berkadar racun sangat rendah tapi dalam jumlah banyak akan menimbulkan masalah.
-
Terdapat 3.2 ton limbah yang akan dihasilkan selam beroperasinya dan dari awal hingga kini tempat pembuangan sampah tailing telah mencapai 230 km.
-
Sungai-sungai yang menjadi tempat pembuangan menjadi abu-abu kotor dan kumuh
-
Danau Wanagon pernah jebol dan menelan korban jiwa, karena kelebihan kapasitas pembuangan.
-
Bukan tidak mungkin akan mencemari Taman Nasional Lorenz yang telah diakui oleh PBB.
-
-
-
Dalam hal ini PT Freeport tidak diam saja. Mereka telah melibatkan pakar-pakar dan jugabekerja sama dengan Kementrian Lingkugan Hidup untuk mengatasi hal ini. Dan opsi terbaik yang telah dilakukan adalah membuang tailing ke sungai Aghwagon-Otomona-Ajkwa dan mengendapkannya di dataran rendah. Semoga saja riset yang telah dilakukan dan masih berlangsung saat ini dapat mengatasi masalah yang ada. Yang jelas keberadaan Freeport berdampak bagi lingkungan.
Belum lagi skandal Freeport dengan, yaitu kerjasama antara pihak Freeport dan TNI dalam penjagaan wilayah Penambangan. Dalam hal ini PT Freeport telah menyebar 20 juta dollar AS untuk TNI dan Polri. Keberadaan TNI untuk menjaga objek vital atau menembaki pencari emas di daerah pembuangan tailing masih perlu dipertanyakan Karena juga masih dipertanyakan kenapa perusahaan sekaliber Freeport memberi dana pada TNI dan Polri yang memiliki catatan buruk soal penegakkan HAM.
Di dalam laporan resmi tahunannya, Freeport McMoran menuliskan bahwa dirinya membiayai dukungan uang sejumlah 6.9 juta dollar pada tahun 2004, lalu 5.9 juta dollar tahun 2003 dan 5.6 juta dollar tahun 2002 kepada pihak keamanan resmi pemerintah Indonesia (TNI). Pernyataan Freeport McMoran dalam membiayai TNI bukan hanya dilaporkan pada tahun 2005. Hampir setiap tahun, Freeport McMoran selalu melaporkan bahwa dirinya membiayai TNI untuk melindungi keamanan.
Sikap yang harus Diambil
Hasil tambang yang ada di Papua merupakan potensi SDA yang sangat besar. Jika dimanfaatkan dan dikelola dengan baik maka akan dapat mengatasi berbagai permasalahan ekonomi yang ada di Negara ini. Ketika ada pemblokiran oleh penduduk di Freeport beberapa waktu lalu, setiap harinya Indonesia merugi 2,7 trilyun dan itu hanya royalty sebesar 9% dan pajak saja. Maka jika pemerintah memiliki keuntungannya secara penuh maka setiap tahunnya Indonesia akan mendapat Rp 884,52 trilliun. Jika dihitung angka ini ak cukup untuk memberikan subsidi kepada rakyat. Uang itu juga bias digunakan untuk menutupi deficit APBN (Rp 198 trilyun), juga bias untuk membayar utang beserta bunganya sebesar Rp 159,7 trilyun. Sisanya bisa untuk pendidikan gratis, pengobatan murah, dan perumahan bagi rakyat. (Sabili, April 2006)
Sekali lagi, hal diatas akan terwujud bila yang mengelola adalah kita sendiri. Maka semestinya ada beberapa hal yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu :
-
-
-
-
Membentuk tim inspeksi yang akan melakukan investigasi dan mencari fakta-fakta pelanggaran yang dilakukan Freeport.
-
Melakukan proses peradilan kepada yang dianggap bertanggungajawab terhadap masalah ini.
-
Membatalkan kontrak karya atau mere-negoisasi kontrak ( kontrak ulang) dengan pihak Freeport
-
Menolak pengelolaan SDA yang eksploitatif dan merusak..
-
Pemerintah harus peduli dengan rakyat Papua yang selama ini dikesampingkan dengan memperhatikan kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan mereka.
-
Menjadikan tambang yang ada di Papua sebagai salah satu aset bangsa yang strategis serta penopang bagi pelayanan masyarakat secara berkeadilan dan mensejahterakan.
-
-
-
Tidak dapat dipungkiri bahwa peranan Freeport dalam pembangunan Indonesia cukup signifikan. Namun hal itu juga dibarengi dengan berbagai macam dampak yang lebih merugikan dibanding apa yang dihasilkan. Belum lagi sebagian besar hasil bumi kita justru dinikmati buykan oleh kita yang memiliki sumber daya alam tersebut. Inilah suatu bentuk penjajahan baru yang didalangi Amerika melalui Freeport McMoran nya.
yang bermasalah sesungguhnya MANUSIA INDONESIA sendiri..
Indonesia SANGAT kekurangan SDM yang cerdas dan kreatif, hanya bisa mengandalkan pihak asing untuk “mengelola” kekayaan alam Indonesia..
coba pikir, kalau kita dapat mengelola SDA kita sendiri,, berapa bnyk uang yang dapat kita hasilkan..
Indonesia masih berpegang teguh pada paradigma “males2an”, “ngaret”, “acuh tak acuh”, dan sikap2 jelek lainnya,, sikap itu lah yang membuat kita masih dapat “dijajah” oleh asing..
kita sebagai generasi muda,, tunas bangsa Indonesia,, harus dapat membawa Indonesia ke kehidupan yang lebih baik, lebih CERDAS, dan KREATIF…
jgn hanya menjadi “budak intelektual” bangsa asing..
BANGKIT INDONESIA!!
#Kouya
pada dasarnya orang indonesia itu masih bermental “inlander” alias mental-mental orang yang selalu ingin dijajah.
kalo dulu kita dijajah dengan senjata….sekarang taulah.
uda cabut aja freeport bila perlu bantai petingggi2nya.
dari dulu orang indonesia penyembah bule, apa-apa yg berhubungan dengan bule selalu dipuja .. pekerja bulu, artis bule, atlit bule dst .. makanya dijajah terus sejak jaman belanda. makan .. tuh bule!!
[...] Freeport Penjajahan bentuk baru [...]