Oleh : Ust Musholi
Di Asrama PPSDMS Regional IV Surabaya
Sebelum beranjak ke bahasan tentang hadist. Akan dipaparkan sejenak kisah kepemimpinan Rasulullah SAW terutama dalam menghadapi perang. Setelah Fathul Mekkah tentunya kita teringat dengan perang Hunain. Perang yang melibatkan sekitar 10.000 pasukan kaum muslimin. Pada saat itu kaum muslimin mendapatkan kemenangan. Terlihat di sana kuaitas kepemimpinan seorang Muhammad SAW. Dialah titisan dari seorang pemimpin Quraisy, Abdul Muthalib yang melegenda.
Hal mengesankan di kala perang adalah saat pasukan Muslim terdesak. Rasulullah mengunakan jurus ampuhnya. Beliau berkata “Saya Nabi, saya tidak ada dusta,” kemudian dilanjutkan dengan “saya anak Abdul Muthalib.” Disinilah kecerdasan dari Nabi, dia menggunakan apa yang dimilinya untuk mengobarkan semangat berpereang pasukannya. Dalam kepemimpinannya sifat-sifat ala Rasul yang sering kita dengar adalah jujur, tidak terlalu suka hadiah, sederhana, dll.
Kepemimpinan Rasulullah selalu menunjukkan berbagai keteladanan, karena keteladanan yang dibarengi kejujuran merupakan dasar dari suatukepemimpinan.
Kedudukan as-Sunnah dalam Islam
As-Sunnah merupakan penafsiran Al-Quran dalam praktik atau penerapan ajaran Islam secara faktual dan ideal (Yusuf Qardhawi). Ini mengingatkan bahwa pribadi Nabi saw merupakan perwujudan dari Al-Quran yang ditafsirkan untuk manusia, serta ajaran Islam yang dijabarkan dalam keseharian kita.
Siapa saja yang ingin mempelajari metodologi atau manhaj praktis Islam secara menyeluruh, maka hal tersebut dapat dipelajari secara rinci dan teraktualisasi dalam Sunnah Nabawiyahnya, yakni ucapan, perbuaatan, dan persetujuannya. Manhaj itu sendiri pun harus memilki beberapa ciri tersendiri. Beberapa diantaranya adalah manhaj yang komprehensif. Maksudnya manhaj Islam tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, dalam dimensi “panjang”, “lebar”, dan “dalam”-nya.
Ciri kedua adalah manhaj yang seimbang. Keseimbangan disini adalah kesimbangan antar jasad dan ruh, antara akal dan kalbu, antara dunia dan akhirat, antara perumpamaan dan kenyataan, antara teori dan praktik, antara yang ghaib dan kasat mata, antara kebebasn dan tanggung jawab, dan seterusnya. Dalam artian ini adalah manhaj yang bersifat tengah-tengah. Ketiga adalah manhaj yang memudahkan. Keringanan, kemudahan, dan kelapangan merupakan ciri lain dari manhaj ini. Sifat seperti inilah yang menyebabkan tidak adanya sesuatu dalam Sunnah nabi yang menyulitkan manusia dalam agama mereka, atau memberati dalam dunia mereka.
Kewajiban Kaum Muslimin Terhadap As-Sunnah
Beberapa keharusan yang diperuntukkan keapda kaum muslimin atas hadist Nabi ini aalah berusaha memahami sunnah yang mulia ini dengan sebaik-baiknya dan berinteraksi dalam aspek hukum dan moralnya. Yusuf Qardhawi mengatkan krisis utama yang dihadapi kaum muslim masa kini adalah krisis pemikiran, dan hal itu mendahului krisis kesadaran hati nurani.
Selanjutnya adalah menghindari tiga penyakit yang merupakan bahaya besar terhadap peninggalan Nabi saw. Adapun hal yang harus dihindari agar ilmu kenabian dan risalah tetap terjaga adalah penyimpangan kaum ekstrem, manipulasi orang-orang sesat, dan penafsiran orang jahil.