Oleh : Ust Munir
Di Asrama PPSDMS Regional IV Surabaya
Orang yang bertaqwa adalah orang yang memepersiapkan kehidupannya setelah kematiannya. Allah menggariskan hal ini dalam surahnya, Al-Hasyr ayat 18-20. disitu diterangkan betapa pentingnya mempersiapkan bekal sebelum kematian. Salah satu persiapannya adalah dengan selalu mengevaluasi diri.
Tarmidzi juga meriwayatkan, adapun orang-orang yang pandai dan sukses adalah pertama dia selalu mengevaluasi dirinya dengan bermuhasabah. Kedua, dia perhatikan aktivitasnya setelah dia mengevaluasinya untuk lebih memperbaiki diri. Maksudnya disini adalah dengan meningkatkan amalan dengan konsisten. Sedangkan orang-orang yang gagal adalah orang yang hanya punya angan-angan untuk diampuni oleh Sang Esa tanpa berusaha sedikit pun utnuk mengevaluasi dirinya dengan bermuhasabah.
Kisah lain menyebutkan, Umar bin Khatab pernah mengatakan untuk menghisap diri kita sebelum dihisab oleh Allah Swt. Begitu pula sahabat Ali yang biasa menghisab dirinya setelah Shubuh. Mu’aimin bin Miradh mengevaluasi dirinya dengn ketaqwaan, tidak dikatakan seorang bertaqwa sebelum dihisab dari mana pakaian dan makanannya.
Hendakya muhasabah ini menjadi dijadikan sebagai kebutuhan kita sehari-hari ditengah hiruk pikuk aktivitas yang terkadang membuat kita lengah. Dengan bermuhasabah, kita akan selalu mengevaluasi diri kita jika terdapat hal-hala salah yang kita lakukan, setiap perbuatan yang kurang dari kita. Dengan begitu akan tercipta sebuah niatan untuk selalu memperbaiki diri dan terus meningkatkan amalan-amalan kita.
Dalam bermuhasabah, penting juga bagi kita untuk mengetahui aspek-aspek yang perlu dievaluasi. Aspek-aspek tersebut anta lain aspek ubudiah, aspek pekerjaan atau perbaikan rezeki, aspek kehidupan sosial, dan aspek dakwah.
Dalam aspek ubudiah, pertama kita engevalusai terkait ibadah-ibadah kita dari sisi kualitas dan kuantitasnya. Di sinilah prose memutaba’ahi diri. Bagaimana kondisi ruhiyah kita, amalan-amalan kita, shalat kita, tilawah kita, dan lain sebagainya.
Ternyata aspek pekerjaan dan perbaikan rezeki juga penting untuk kita evaluasi. Diriwayatkan oleh tarmidzi dan Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda tidak akan bergerak kaki seorang makhluk sampai ia menjawab lima pertanyaan, Digunakan untuk apa umurnya? Digunakan untuk apa masa mudanya? Dari mana dia mendapatkan hartanya? Dan untuk apa harta itu digunakan? Dan bagaimana dia mengamalkan ilmunya? Jelas sekali bahwa dua dari lima pertanyaan diatas mengarah pada harta atau pekerjaan.
Aspek selanjutnya adalah aspek sosial. Hal ini terkait dengan bagaimana muamalah kita, akhlak kita terhadap sesama, dan hubngan lainnya dengan orang lain. Kita adalah makhluk sosial yang selalu bergantung pada orang lain, jadi penting sekali untuk terus memperbaiki dan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Evaluasi apakah diri kita masih bersikap sombong, iri, dengki, dan sifa tercela lainnya yang dapat mempengaruhi hubungan sosial kita.
Aspek terakhir adalah aspek da’wah. Ini adalah aspek yang tidak kalah penting karena terkait dengan tugas kita untuk menda’wahkan Islam. Apakah telah terlaksana dan berjalan secara efektif. Hal ini penting karena sebagai manusia kita diturunkan untuk menjadi khilafah di muka bumi ini.