Oleh : Rieke Dyah Pitaloka, dkk
Dalam Acara Save Our Nation di Metro TV
Berbeda dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di berbagai daerah. DkI Jakarta mempunyai cerita tersendiri dalam pilkada untuk memilih orang nomor sati di propinsi yang menjadi ibukota negara ini. Pembicaraan yang kini sedang menghangat adalah calon gubernur ynag berasal dari non-partai. Dlam artian independen. Walaupun sudah ditutup, dialog yang diadakan Metro TV tersebut melihat dari berbagai sisi jika KPU membuka kembali pendaftaran untuk calon independen.
Pada dasarnya, peraturan yang ada menyatakan bahwa calon gubernur berasal dari perwakilan atau dicalonkan oleh partai politik dan tidak menyebutkan calon independen atau tidak dari parpol. Inilah kendala yang dialami oleh para calon independen. Permasalahan yang terjadi adalah dasar konstitusi yang mengatur mengenai calon independen tersebut yang belum ada. Mahkamah konstitusi pun menjadi “bulan-bulanan” dari kasus ini. Apakah akan mengeluarkan aturan tentang calon independen ini atau tidak. Karakter MK yang independen seharusnya mampu melakukan manufer atau terobosan-terobosan politik dalam dunia demokrasi.
Dari pihak parpol sendiri yang pada malam itu diwakili Pramono Anum dari PDIP tidak mempersoalkan masalah ini, karena pada dasrnya aturan ini sudah diatur dalam UU yang ada. Orang yang dicalonkan para parpol khususnya PDIP merupakan orang-orang berpengalaman untuk menyelesaikan permasalahan kota Jakarta. Pramono juga menyatakan tidak masalah ada calon independen, dan untuk mewujudkannya perlu dukungan ari banyak pihak.
Menanggapi pernyataan Anum, pihak independen yang pada malam itu dihadiri oleh Jefri Geovannie dan Rieke Dyah Pitaloka mengatakan bahwa pengalaman tidak terlalu dibutuhkan, toh yang selama ini ada juga kurang membuahkan hail dalam berkontribusi pada Jakarta. Hal ini juag kurang baik bagi proses regenerasi kepemimpinan. Selain itu dengan para calon independen terlihat lebih krearif dan kredible dalam etos kerjanya.
Di lain sisi, dengan munculnya calon-calon independen akan menambah suasana kompetitif dalam pilahan gubernur DKI jakarta kali ini. Dengan adanya calon independen, ruang gerak parpol yang seringkali turut mengatur kebijakan secara sewenang-wenang tidak akan terjadi lagi.
Sementara itu, dari Lembaga Survey Indonesia (LSI) terbatasnya jumlah calon membuat masyarakat lebih konsen pada calon yang ada. Padahal masayarkat Jakarta secara garis besar lebih menginginkan calon independen juga ikut maju dalam pesta rakyat Jakarta tersebut. Terbukti dari survey yang dilakukan tentang calon gubernur dari non-partai sebanyak 76% setuju, 16% tidak setuju dan sisanya tidak tau. Hasil ini membuktikan ketidakpercayaan rakyat terhadap partai. Masyarakat juga sudah bosan dengan muka-muka lama, mereka lebih menginginkan pendatang baru yang diharapkan punya kualita yang lebih baik. Bahkan dari visi misi dari beberapa calon independen yang terlanjur tersebar membuat rakyat lebih condong untuk memilih mereka.