Begini suratnya…………
Just for chamber number one.
Regar, mas’ul yang keras kepala
Fatik, orang yang aneh atau pura-pura aneh????
Fajar, gendut…….diem.tapi………
Upan, siap Dan……..
Nunu, jenggotmu harimaumu
Dinamis itu manis…..lebih manis dari cewek Inggris yang lagi meringis.
Asslamualaikum.
Sebenarnya bingung mau nulis apa dan harus memulai dari mana. Kalau saja karena susah untuk berbicara mungkin pesan ini tidak akan terbuat. Bagi kalian mungkin konyol, tapi tidak untukku untuk tidak berkata secara lisan. Pada bagian tertentu kalian juga akan tau.
Mungkin sekarang kalian bertanya-tanya dan menerka-nerka, kenapa sich Emal keluar dari PPSDMS? Teruskan!! Barangkali itu yang benar. tapi izinkan aku tuk sedikit berkeluh kesah disini?!! Andaipun kalian malas untuk membaca. Buang saja ke tempat sampah bersama tumpukan bungkus-bungkus nasi kalian. Toh itu tak menjadi masalah bagiku.
Jika boleh flasback satu tahun kebelakang. Tantu kalaian masih ingat PKN I. bagi kalian mungkin kenangan indah. Yaa bolehlah!?… mungkin kalian bangga bertemu tokoh nasional…tapi aku tidak. Mungkin kalian senang bisa ke Jakarta gratis, lihat Monas, Istiqlal, atau mejeng di kampus biru yang mengaharap keberuntungan ketemu Dian Sastro….tapi aku tidak. Tidak setelah aku mengetahui seperti apa PPSDMS, bagaimana PPSDMS, dll.
Maaf jika cerita ini mundur lagi sekitar 1-2 bulan kebelakang. Orang pertama yang menawariku—sebenarnya bukan tawaran tapi pemberitahuan—menerima beasiswa ini adalah My Murobi, SM, atau mungkin kalian lebih mengenalnya dengan Mrwt. Jleg…jleg…jleg, pikir…….pikir dan aku menolak. Bagus sich, menarik dan banyak untungnya pikirku waktu itu. Tapi…….????
Tawaran kedua dari G, angkatan pertama yang juga kakak angkatan. Jawabanku sama.
Yang ketiga datang dari murbi keduaku, dan ini bukan tawaran tapi perintah. So karena waktu itu aku lagi nurut-nurutnya dan sebagai seorang jundi yang baik, apa mau dikata. Diikhlaskan saja……..
Waktu itu, perlu digaris bawahi disini, alasan penolakanku adalah pertama, aku tipe orang yang hanya bisa fokus pada satu pikiran tertentu. Tahun pertama aku sudah ada di KAMMI dan bertekad hanya di situ selama masa kuliah. Dulu aku termasuk orang yang mengecam amanah ganda, kaya gak ada orang lain aja. Kenapa? Karena fokus kerja juga akan terpisah. Ini pendapatku. Waktu itu lho..
Kedua, PPSDMS penuh aturan dan kalian tau seperti apa my self.
Ketiga, aqu lupa……………nanti deh kalau inget ku tambahin.
Lalu dengan alasan yang ada di paragraph ke empat baris ketiga dan perasaan ingin bersaing dengan kamu-kamu semua untuk membuktikan ini loh Emal mahasiswa termuda di ITS (waktu itu) menjadi 20 orang terbaik yang masuk PPSDMS. Alhamdulillah lulus juga, mungkin karena ingin membuktikan diri, tidak mau kalah, dan merasa hebat. Perasaan ini jugalah yang membuatku lulus SPMB.
Dan PKN I lah kita…………
PKN I menjelaskan bagaimana kehidupan asarama selama 2 tahun. PKN I memaparkan kuntungan juga tanggung jawab, kewajiban, dan perasaan moral untuk eksis di dalamnya, kalo boleh nambahin, demi bangsa dan negara. Dalam satu hari bisa sampai tujuh belasan kali hati dan pikiran ini menyatakan “bagus juga! Boleh ini!!” dan kemudian menyebrang menajdi “wah koq gitu, aku gak cocok tuh, gak seru”. Seperti itu selama seminngu. But, keputusan sudah dibuat. Kuputuskan hanya cukup sampai PKN I saja, tanpa asrama, tanpa PPSDMS.
Ada dialog menarik sehari menjelang kepulangan, kalau tidak salah malamnya kalian jalan-jalan ke jakarta pusat. Percakapan yang terjadi antara aku dan MN di bawah gedung pesantren mahasiswa asrama jakarta yang belum jadi. Kira-kira seperti ini singkatnya…….
“mas, sepertinya saya mau mengundurkan diri dari PPSDMS.” Tanyaku santai
Kemudian mas moko menjawab dengan tampang kaget dan senyum yang sedikit dipaksakan. “kenapa? Belum coba koq dah bilang gitu?” tanyanya.
“sepertinya saya gak cocok disini mas.” Alasan kuno, klasik dan nora’ mungkin yang kuungkapkan.
“gak papa, pertama-tama memang gitu, saya juga dulu gitu koq.!”
“tapi mas……….”
Udah coba aja dulu, nanti di Surabaya ngomong sama pak Y. Ayo naik dulu!”
Yaa kalo tidak salah seperti itu. Sejujurnya PPSDMS adalah beasiswa terbaik yang pernah kuketaui, tujuannya jelas, dan keren kalo bahasa bekennya. Luar biasa bahasa trainernya. Tapi, sebenarnya alasan yang kukemukakan ke mas moko juga tidak salah. Waktu itu aku sudah merasa gak cocok. Lebih lanjut kita bahas nanti.
Malam hari kucoba menyendiri, tidak ikut jalan-jalan, tidak mau ngobrol ataupun sekedar ingin berbincang. Kupaksakan untuk tidak terlalu dekat. Mungkin aku takut terlena dan tertarik masuk asrama atau juga agar teman-teman acuh padaku, sehingga tidak begitu berat bagiku untuk meningalkan atau untuk mereka yang merasa ditinggalkan. Entahlah………… mungkin juga kedua-duanya.
Di Surabaya,
Entah hari pertama atau menunggu sampai hari kedua hingga ada perasaan untuk menerima PPSDMS. Mungkin aku tertarik dengan asarama yang seperti rumah idaman, temen-temen yang asyik dan mendukung, uanga pembinaan bulanan dan tidur gratis, atau juga karena taujih pak Y yang bunyinya kira-kira seperti ini………….
“ya, itu biasa. Antum coba aja dulu. Nanit juga bakal nyaman. Kalo memang antum dah dapat beasiswa (dari caltex dan peraturannya tidak boleh nerima dari tempat lain, hal ini juga menjadi alasanku waktu itu) dari tempat lain. PPSDMS bukan beasiswa koq. Ini pembinaan.”
Kemudian kubalas, “begini pak, daripada saya jalanin setengah-setengah atu nanti mandek di jalan biar saya berhenti sekarang saja.” Tegasku.
“oh ndak papa. Nantin juga pasti antum betah koq.”
Karena alasan-alasan yang dikemukakan sebelumnya terutama karena uang 300 ribu (maaf sekali karena aku memang butuh) aku bertahan dan didukung oleh Tomo yang traktir aku di Pizza Hut (sebenarnya males makan di tempat seperti ini, tapi karena pertama kali dan pengen , apa mau dikata) kalo gak jadi mundur.
Dan seperti itulah hingga aku resmi menjadi peserta PPSDMS.
Setahun kulalui dengan penuh keseriusan dan kesungguhan. Dalam hal ini kalian lebih berhak dan lebih kompeten untuk menilainya. Bagaimana diriku selama setahun ini. juga ditempat lain seperti KAMMI juga kuperlakukan dengan sama. ITS Online apalagi, dan sedikit bantuan yang kuberikan pada kajian jurusan dan bantu-bantu di JMMI. Semuanya “terpuaskan”.
Jika kalian melihat atau membaca karier planingku yang ditempel atau di prsentasikan, maaf saja itu hanya rekaan walaupun ada yang benar. Jujur, planing ku tidak seperti itu. Dan maaf belum dapat aku ceritakan disini. Setahun berlalu, aku disibukkan untuk selalu memberi, melayani dan menyenangkan. Memang kulakukan dengan ikhlas (ini juga relatif dan bisa juga subyektif) tapi ada rasa kurang dan kehampaan dalam diri ini……ceile puitis banget.
Mungkin aku hanya dapat menerima ilmu sebagai bekal dari PPSDMS. Banyak dan berguna, namun tidak sesuai dengan tujuanku, tidak cocok dengan yang kuinginkan. Walau tidak sedikit yang dapat kumanfaatkan.
Masalah lain adalah soal asarama, mulai dari kedisiplinan, kebersihan, kenyamanan, sampai kemunafikan-kemunafikan kalian. Aku muak dengan itu semua. Bosan…
Ditambah beban pikiran yang menumpuk dan tak karuan (di awal dah dijelaskan mengenai kurang bisanya diriku memanajemen konsentrasiku. MASALAH KELUARGA, kuliah, amanah sana-sini, tugas-tugas asrama seolah selalu berkecamuk dalam otak ini. hati pun mudah terserang virus, mulai dari hitam sampai merah jambu.
So, aku menjadi pribadi yang minim kualitas diri, kurang produktif dan gak jelas ke mana arah dan tujuan. Semester 3 IP turun, aku tau penyebabnya. Ini memang kelemahan tipe orang pemikir dan tidak bisa memanajemen konsentrasi seperti aku. OK. Kucoba perbaiki semester 4 mencoba belajar menggunakan pikiran secara baik, menempatkan disaat yang dibutuhkan. Tapi toh hasilnya semakin memburuk. IP makin jatuh, kualitas diri menurun, amanah pun agak kacau………. Dan inilah akhirnya.
Kalau kalian bingung mungkin contoh sederhananya seperti ini. saat aku kuliah, belajar dalam kelas, pikiran tidak ada di kelas. Kemana? Bisa ke amanah yang belum diselesaikan, berita yang mau diliput atau akan ditulis, tugas bulanan asrama yang menggunung, PR ini dan itu yang gak kelar, telepon dari keluarga yang menceritakan masalah ini dan itu. OH tidak……….. terkadang itu semua menjadi satu ditambah beban-beban lain seperti beban hidup, beban mati, beban berjalan, beban dinamis, beban statis, beban aksila, dll. Saking capeknya otak ini, tidak jarang dan hampir selalu aku tertidur di kelas ataupun acara-acara asrama lainnya.
Mungkin kalian sudah mendengar alasan-alasan kenapa aku keluar. Karena IP turun lah, karena gak berprestasi di PPSDMS lah, atau yang lainnya. Memang ada benarnya tapi itu hanya pematik saja, pemicu yang kujadikan alasan untuk kelaur dari semua ini. alasannya jauh lebih besar dari itu. Aku ingin mencapai tujuanku, aku meningkatkan kualitasku, dan aku ingin membahagiakan semua orang yang mencintaiku, dengan cara terbaik bagiKU, dan menurutku. DENGAN MENGGUNAKAN SANDAL, BUKAN SEPATU yang mengekang.
This is my life. No body cann’t mengatur my life. Sory englishnya agak kacau.
Mungkin kalain juga bertanya kenapa solusinya harus membuang beban ini dan beban itu. Seperti memulai dari nol. Bukan dengan mengurangi satu persatu-satu, perlahan sambil memanajemen pikiran. Inilah frame berpikir yang salah (Pak Arif nih). Kalau satu-satu apakah ada yang menjamin akan berubah hasilnya. Dengan perlahan justru kita berpikir, “nanti kalau gagal lagi kurangi lagi.’
Lebih baik memulai dari nol dan memanjat perlahan. Setidaknya aku tidak akan membiarkan diriku gagal.
Semua ini kulakukan sebagai bentuk penyingkiran segala hal yang menghalangi tujuan. Bukankah itu yang dikatakan arif Munandar. Singkirkan segala hal yang menghalangi tujuan anda. Lalu kalain bertanya lagi. Koq PPSDMS bukan dijadikan alat untuk mencapai tujuan itu? Hal ini kembali ke karakter masing-masing. Ada baiknya kupaparkan cerita Taioko, karya Eiji Yoshikawa yang baru kubaca. Dalam novel klasik tersebut terdapat tiga tokoh, tiga pemimpin besar, tiga kepribadian khas yang hingga kini anak-anak Jepang biasa menyanyikannya. Kalo disingkat mungkin begini…..
Kalo ada burung yang tidak mau berkicau, Hideyoshi akan berkata buat burung itu berkicau (dialah sang Taiko), Nobunaga akan berkata, bunuh burung itu, dan Ieasyu akan berkata tunggu……….
Mungkin aku berkarakter nobunaga. Kalian bisa menilainya.
Hal lain yang ingin membuatku segera keluar adalah kalian. Akau tidak ingin kalain mengikuti aku yang akhir-akhir ini selalu tidak taat pada assrama, banyak gak setuu ini dan itu, menentang ini dan itu, dll ini adalah bentuk protesku. Mungkin kalo aku bertahan, ketaatan dan prote-protes akan menjadikan destabilisasi asrama. Aku tidak ingin itu terjadi. Aku ingin kalian bertahan dan berhasil berkat PPSDMS. Dalam Risalah Pergerakan 1 karangan pimpinan IM Hasan Al Banna. Ada 3 hal yang harus diperhatikan untuk mencapai tujuan. Pertama, sistem yang baik dan benar. PPSDMS mungkin sudah punya hal ini. Kedua, pemimpin yang dapat dipercaya, dan pembina, pelaksana harian dan supervisor kita insyaAllah dapat dipercaya. Dan yang Ketiga adalah pengikut yang taat, dan kalau aku tetap di asrama tujuan kalian , tujuan PPSDMS akan sulit untuk diwujudkan.
MAAF.
Tahap-tahap yang aku lakukan dan mungkin teman-temen yang telah mendahului untuk keluar dari asrama adalah mas moko, ketua pelaksana harian. Awal mula aku ngomong mas MN. Seperti biasa, kurang ditanggapai serius, malah diberi taujih sana dan taujih sini. Setelah kukemukakan alasanku, Kalo tidak slah seperti ini mas MN menimpalinya……..
“ya coba antum perbaiki lagi lah. Manajemen lagi pikirannya. Sayang loh. Antum dah ada di KAMMI, di ITS Online, PPSDMS. Antum kan bisa hubungkan mereka satu sama lain. Sebagai orang kastrat antum bisa mengeluarkan tulisan lalu dipublish di ITS Online. Atau buat artikel di bulanan di asrama. Coba lihat temen-temen yang lain yang begitu banyak amanah tapi tetap bisa memanajemen diri. Cobalah lagi. Antum pasti bisa”
Dalam hati aku hanya berkata. Sudah dicoba sejak semester lalu mas dan aku tidak sama seperti mereka. Mereka orang kuat, lah aku. Karakter kami berbeda. Tapi itu kutahan, percuma ngadepi orang kaya mas MN, diputer-puter.
Beberapa hari kemuidan karena didiamkan begitu saja. Sebelum pulang ke riau yang kedua. Kutitip surat ke fatik, yang perkiraanku sudah dibaca duluan. (90 % bener nih). Sory hanya dugaan yang beralasan. Tadinya mau tak kasih langsung. Tapi mas MN selalu menghindar. Begitu pula saat aku pulang dari Riau. Mas moko adalah orang yang jarang kutemui. Di satu kesempatan langsung kutanya. Begini katanya, “aduh Emal jangan mikirin itu dulu deh, lagi pusing acara fla nih. Ataui langsung ngomong pak Budi aja. Ini nomornya, bla bala bnala.”
Mungkin malam itu kalian masih ingat saat aku ber-empat mata dengan pak BNI. Ternyata dan tak disangka-sangka, tidak terlalu sulit kalo dengan pak BNI. Kupikir waktu itu pak BNI adalah orang yang mudah untuk diajak bicara. Ya taulah pak BNI. Kepastian tungu 24 jam. Katanya.
Menunggu itu ngak enak. Banget deh. Singkong dikasih ragi. Ceeeeeepeeeeeeeee deh. Mmaksudnya tapenya harganya cepe. Sekitara dua sampai tiga hari tanpa kejelasan kutelepon pak BNI. Jawabannya begini, “sebenarnya kami bisa menerima.” Busyet pikirku. Cepet dan gampang amat. Pak BNI melanjutkan coba antum silaturrahmi ke pak M dulu.”
OH MY GOD. Matiku aku, Pak M gitu loh.
Dan kutemukan hari yang tepat, hari dimana mas Mar juga ada perlu ke rumah bersama. Akhirnya kami bertiga bersama teman liqoku menuju rumah penderitaan mungkin, unuk sementara. Disini cerita menariknya.
Aku yakin dan sangat yakin bahkan Haqul yakin kalo Pak M dah tau. Biasa lah jarinagn ke atas kuat sekali. Di ITS, khususnya bagi mereka yang ikit tarbiyah atau segala macam yang berbau PKS, mulai dari KAMMI, JMMI, dan BEM. Orang atas pasti tau sejengkal apapun langkah kalian. Dan yang paling tidak aku suka, pak M ini pura-pura gak tau dnegan bertanya, “gimana kabarnya Mal, baik-baik aja?” gedubrak. Padahal aku ke Pak M atas suruhan Pak BNI yang katanya Pak M itu nunggu. Berarti Pak M kan yang meminta aku datang. Kalo gak buat apa repot-repot.
Kujawab, ” ohhh, baik, baik-baik aja pak. Alhamdulillah.” Bas-basi nih.
Urusan dengan mas M dah selesai. Dan disini serunya. Pak M memberi taujih, pandangannya selalu menuju temanku tapi isi ceritanya menyinggung aku. Biasa dengan kata-kata sindiran atau cerita-cerita singgungan.
Diantaranya yang dapat kutangkap seperti ini.
Pertama, pak tasor menyampaikan bahwa dimanapun kita berada kita harus performe di situ. Saat kita melakukan atau mengerjakan sesuatu kita harus fokus dan memberi yang terbaik disitu. Yang kutangkap adalah Pak tasor menerima informasi bahwa aku setengah-setengah di PPSDMS. Menurut kalian gamana? Awalnya aku takutkan hal itu, tapi toh diriku cukup surive di PPSDMS.
Kedua, dia cerita tentang Marie Curie, kimiawan dan fisikawan yang meraih dua nobel dari dua kategori di atas, wanita pula. Dia menceritakan kalau Marie curie ini mendapatkan segalanya dengan keterbatasan dan kekuarangn yang ada. Yang kutangkap Pak tasor mendapat informasi aku tidak begitu nyaman dengan kondisi asrama. Kalo ini ada benarnya, sedikit.
Satu hal yang pak M sesalkan adalah aku tidak banyak bicara, tidak pernah sharing, atau sekedar ngobrol, dan tiba-tiba langsung pengen keluar. Kalo kupikir-pikir, so what. Apa ada masalah?
Malam itu kubeberkan alasan-alasan di atas,tapi Pak M hanya melihat kalo aku keluar karena IP ku turun. MasyaAllah. Picik sekali pikirannya. Seorang Emal yang IP turun lantaas keluar dari PPSDMS. Lucu. Sudah kukatakan sebelumnya IP hanyalah pemicu. Aku bersyukur IP turun sehingga menjadikan satu alasan kuat untuk keluar. Soal ini pak M menganalogikan dengan gempa. Gempa dan getaran adalah dua hal yang saling berhubungan. Biasanya ada gempa ada getaran. Getaran diumpamakan seperti hasil-hasil yang kita peroleh, IP, Prestasi, organisasi. Dan gempa adalah proses, jalan menuju hal-hal tersebut. Katanya, yang terpenting adalah bagaimana terjadinya gempa, getaran itu penting sebagai sarana penginformasian, “kerja IP kecil walaupun mampu ya gak akan diterima,” kata Pak M. Gempa itulah aktivitas kita sehari-hari. Mulai dari bangun shubuh, tilawah, dan lain-lainnya
OK. Kalau memang seperti itu kalian bisa menilai sendiri bagaimana aku di asrama. Getaranku sedikit bahkan nyaris tidak ada. Lalu bagaimana gempaku? Mulai dari Shalt shubuh, tilawah, tugas asrama, agenda asrama. Bandingkan dengan teman-teman yang lain. Terserah yang mana aja. Kesimpulannya? Maaf kalo subjektif tapi selalu saja ada gempa dalam diri ini. dan maaf, teman-teman lain kalian simpulkan sendiri.
Selama setahun masa kita di sarama. Dua hal yang menjadi target atau tolok ukur keberhasialn para pengurus asrama. (ini kesimpulanku). Prestasi dan program yang berjalan. Asrama tidak mengurusi orang, mereka sibuk mengurusi sistem. Yang penting anak-anak punya prestasi hebat. Terakhir 5 anak berada di kepengurusan BEM. Prestasi itu penting bahkan sangat penting. Tapi , gempanya. Lilhatlah kondisi asrama kita. Malu aku. Asrama terlalu ngotot utnuk menyelesaikan program. Sebulan harus ini harus itu, agenda ini dan itu. Muak aku. Masih ingat siapa pengganti januar dan wanda. Orang-orang yang sudah berprestasi. Dan penurut.
Dan jujur, kalian terlalu mudah untuk didikte. Inget fla. Apa yang kita lakukan memang sudah mereka rencanakan dari awal. Kalian terlalu nurut. Kita tidak dapat mengeksplor diri. Memang sepintas kita semua yang melakukan, tapi merekalah sang penunjuk jalan, dan kita terlalu mengikutinya.
Maaf semua yang saya tulis di atas bukan pendoktrinan, tapi pendapat subjektif belaka. Kalo tidak sepakat bisa didiskusikan kemudian hari.
Tambahan. Saya mendapat kabar dari mantan teman liqo. Tapi ini perlu dibuktikan kebenarannya, walaupun saya sudah percaya ini benar. Salah satu hal yang membuatsay masuk PPSDMS adalah akrena ikut liqo dengan salah satu murobbi. Mungkin kalo tidak liqo atau tidak dengan murobi yang satu itu, saya dan kholid tidak ada di PPSDMS. Entahlah…………
Bosen ngomongin mereka. Aku pengen ngomongin kita.
Satu tahun di asrama adalah saat-saat yang tak terlupakan. Menyenangkan sekali bisa bertemu orang-orang hebat seperti kalian. Banyak hal aku belajar dari kalian. Tertutama di kamar satu. Kenagnan-kenagangan indah ataupun buruk tak akan pernah terlupakan. Kalianlah orang-orang yang benar-benar kucintai selama di ITS. Indah, terasa indah bila kita semua dalam alunan cinta. Sedapat mungkin terciptakan rasa keinginan saling memilki. (Kasih tak sampai, Padi).
Berat rasanya meninggalkan kalian, meninggalkan ppsdms, meninggalkan kedinamisan.
Masih teringat dengan regar. Saat gemboknya kurusakkan. Sory gar, aku gak tau kodenya. Maaf kalo rusak. Mas fajar yang jarang di asrama, gmana Gunya. Mas lutfan, tak kan pernah terlupakan ekspresi kemarahan saat aku mengunci pintu kamar. Syekh, mercedes clk gtr memang mobil paling ok. Fatik, jangan sering-sering ke FK ya. Kita banyak nyambung walaupun dirimu memiliki backround NU, dan aku yang walaupun bukan tapi punya latar belakang Muhammadiyah. Solid dan pertahankan selalu. Pada suatu malam aku, entah mengapa menaangis memikirkan hal ini. menandakan kalian adalah orang-orang yang berkesan di hatiku.
Maaf
Syekh, jaket ppsdms ku untuk mu aja.
Mas fatik, ada minyak gorenga ma sos ddi meja belajarku.
Jika boleh aku ingin mengajukan permohonan dan mungkin permintaan.!!
Aku akan sangat senang jika kamar satu bisa pindah ke ruang mushola yang sekarang di pakai yayasan SDm strategis. Kamar satu adalah kamar yang tidak nyaman, banyak penyakit. Sadarkah kalain yang selalu menghirup debu kotor setiap hari. Pengap, panas, sungguh sangat tidak sehat. Jika benar DHU 39 adalah asrama. Kalian berhak meminta kenyaman. Janganlah berpikir semua harus merasakan. Itu berarti menjerumuskan kepada penyakit. Berjuanglah untuk memindahkan kamar satu ke mushola. Awalnya DHU 39 adalah asrama, bukan kantor. Kalian yang lebih berhak. Terutama dalam menerima kenyamanan. Kalau usul ini kalian usulkan dan tidak disetujui berarti pengurus lebih mementingkan yayasan daripada kalian sebagai peserta ppsdms. Kalian akan menajdi “budak-budak” mereka lagi. Dan tidak ada alasan untuk lebih mementingkan yayasan daripada kalian. Kalian tuan rumah. Buatlah diri kalian nyaman.
Bingung mengakhirinya juga gimana.
Yang jelas surat ini hanya untuk kamar satu. Tapi bagaimana setelahnya
Terserah kalian saja.
Jika ada perlu bisa menghubungi 085231648828
Ketik reg (spasi) emalkeren (spasi) keperluan anda.
Wassalamualaikum
Mau nambah lagi boleh!?? Waktu silaturrahim ke Pak M, dia kan nanya aku datang ke rumahnya mau memberitahuakan atau meminta pertimbangan mengenai pengunduran diriku. Aku jawab mau memberitahukan. Langsung saja mukanya merah. Mungkin marah. Tampang cemberut pun selalu terpasang hingga kami pulang. Selama itu, pak M lebih banyak diem. akupun jadi merasa bersalah
Satu lagi,
Proses pengunduran diriku, terlihat terasa mudah. Tidak ada gaya yang berarti dari mereka untuk mempertahankanku. Baguslah kupikir. Tapi, seolah-olah mereka mengusirku secara halus. Mungkin karena aku begitu kurang bergunanya di asrama.
Dan yang membautku sangat-sangat sedih dan kecewa adalah sudah adanya desas-desus penggantiku di asrama di kala aku masih berada di asrama, saat pakaianku masih mengantung di lemari, saat jiwa ini masih ingin bersama kalian………………………
NB : ada satu hal yang teramat penting yang belum tersampaikan di sini. Karena terlalu panjang mungkin di surat selanjutnya. Hal penting yang benar-benar membuatku harus merelakan semuanya……..PPSDMS, KAMMI, JMMI
Emal..
kok dipublish di muka umum..
entar bukan rahasia lagi…
tapi bagus untuk menunjukkan eksistensi kita…
aku pengen buat blog …
tapi aku malu Mal…
coz …
banyak rahasia yang ga boleh orang tau …
fatik
sewaktu dikirim ke kamar satu, saat itu juga surat ini bukan rahasia lagi. eksistensi yang mana?
kalo malu buat blog ya tampilin yang gak buat malu donk. heee
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Wahai, elang putihku, perkenankan daku memperkenalkan diri.
Wassalam
Pak Y.
pak Y
waduh….ketauan
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Sedih. Cuma satu kata itu yang membayang pada saat saya membaca tulisan ini. Untuk PPSDMS ada banyak learning points yang bisa diperoleh dari tulisan ini. Tapi untuk Bizesha, cuma sedikit yang bisa saya katakan: What you think is what you do, is who you are. Next time, jadilah pemimpin yang lebih bernyali. Seorang pertarung sejati. Sekedar share pengalaman, saya sudah bergabung dengan berbagai organisasi. Saya sangat sering dikecewakan. Tapi saya punya belief bahwa saya hanya punya dua pilihan: keep fighting to change it, or remain silent. Pemimpin boleh kalah, bisa saja bodoh, bisa saja tak sepintar Bizesha dalam berkata-kata, tapi paling tidak pemimpin tidak boleh kehilangan kehormatan.
Jadi teringat kata-kata ‘Aa Gym. Air yang keluar dari teko kata beliau, ya mencerminkan isi teko itu. Kata-kata, sikap, dan perilaku kita, yang mencerminkan kualitas isi kepala dan hati kita.
Terakhir. Saya agak terkejut dengan kata-kata “kemunafikan-kemunafikan kalian” yang ada dalam tulisan ini. Setahu saya, siapa yang mengatakan orang beriman sebagai munafik maka hal itu berbalik pada dirinya sendiri.
Salam
Arief Munandar
assalamu’alaykum wr wb.
setiap orang mempunyai kemampuan, kelemahan, kelebihan, potensi, …
setiap orang berhak melakukan apa saja yang ia mau, ia inginkan, …
setiap orang dapat menyampaikan apa yg ingin ia katakan, ia pendam selama ini, …
tapi, satu hal yang pasti, apa yg kita lakukan adalah mencerminkan kapabilitas diri kita, kemauan kita, potensi kita, dan segala hal yg kita miliki.
apakah kita cukup puas dengan kondisi kita sekarang?
tetep semangat ya bizesha !
kenapa bertahan dengan orang orang yang ga menghargai sikap kritis kita, yang suka bgt menghakimi kita. bicara keras dikit lgsg divonis kita bgini bgtu.sungguh budaya yang ga sehat. ga boleh kritis kepada kalangan sendiri. kita manusia yang merdeka, kenapa harus dibelenggu ini itu, hrs begini bgtu. Lepas.. Islam tidak seeeekecil itu. Carilah sebanyak-banyak ilmu dan referensi, maka akan kau dapati Islam yang toleran dan moderat.
Pak Arif
Waalaikumsalam…..
Senang, satu kata itu yang mewakili diri saya saat mengetahui pak Arif yang memberiakn komentar. Seharusnya semau tau bagaimana diri saya dari hanya membaca tulisan diatas. Mungkin pak Arif yang pertama. Secara jelas sebenarnya terpampang beitu banyak kelemahan di sana. Satu hal yang tidak terkira sebelumnya adalah “kehilangan kehormatan”. Saya merasakannya.
Terimakasih nasihatnya dan sarannya ditengah hujatan dan ketidakpedulain yang lain. Satu tahun mencoba untuk “keep fighting to change it” sudah cukup rasanya. Lelaaaah.dan “remain silent” sepertinya bukan tipe saya. Langkah yang saya ambil tidak kalah bernyali dan dalam pertarungan yang sejati mengingat dampak yang telah saya perkirakan akan saya terima. Dan telah saya rasakan. Bagi saya ada positif dan negatifnya.
Saya berfikir terkadang saya juga munafik. What I thing is what I do. What I do is What I thing too. Is Who am I. sekali lagi yang benar-benar membaca akan tau siapa saya. Semoga pak Arif bukan yang terakhir.
Salam
Emal Zain MTB
Hidup di Surabaya……bukan Jogja……apalagi Jakarta….????
Yuda Harja
semangat……………makasih mas!
“Apakah kita cukup puas dengan kondisi kita sekarang?”
saya sich belum mas….
waktu pengkaderan saya diajarkan “untuk mencapai lingkaran nyaman, kita mesti melalui lingkaran tidak nyaman.”
dalam artian kita mesti susah dulu menuju kesenangan. kita mesti berani melalui berbagai tekanan sebelum mencapai apa yang kita inginkan.
belakangan saya berpikir.
kalau bisa mencapai zona nyaman dengan melewati zona nyaman juga….kenapa tidak.
Nurul Nayya
Tidak segitunya juga kali…..
semua saya jadikan sebagai renungan dan muhasabah
saya hidup di surabaya
nikmat koq….
Assalaamu’alaikum
He he he, mungkin ada bagian yg perlu saya klarifikasi. Yang saya maksud dengan remain silent bukan diam seribu bahasa, tapi tidak membukanya di forum publik seperti ini. Tapi ya itu tadi, semuanya adalah pilihan, dan setip pilihan ada konsekuensinya.
Mungkin juga cara berpikir saya yang kelewat sederhana. Tapi dalam kondisi yang confused saya cenderung berpikir normatif saja, misalnya ya tentang komentar saya mengenai “kemunafikan-kemunafikan” itu.
Tapi kalau saya boleh bertanya, saat itu Emal sempat berdiskusi dengan Pengurus Pusat? Ustadz Musholli misalnya? Itu termasuk bagian yang saya maksudkan “fighting to change it” juga.
By the way, kalaulah ada yang sangat saya sesali, saya baru tahu masalah ini belakangan. Mungkin memang saya yang kurang peka …… Mohon dimaafkan ya Saudaraku ….
Salam
Arief M.
Pak Arief
ternyata saya juga salah mengerti……..
saya minta pendapat temen-temen asrama dulu soal Remain silentnya.
satu lagi
saya juga suka berpikir sederhana
maaf atas semua kesalahan, kelemahan, dan kekhilafan
wassalam
Emal
*ngak sengaja jalan2 lagi ke blogmu emal, maaf kalo saya baca bagian ini, walau semua orang tau ini terpublish, mau tidak mau pilihan orang yang membacanya tidak berkomentar atau berkomentar*
Some situation u face it, like me.
banyak pelajaran hidup bisa di dapat dari surat ini karena memang saya tertarik dengan ilmu-ilmu hidup yang di dapat emal dalam kehidupannya, baik itu kehidupan yang baik maupun yang tidak baik, asal kita bisa belajar dari semua itu untuk jadi yang lebih baik.
Emal, semangatnya luar biasa, banyak teori kehidupan yang kamu tau, tapi tidak semuanya teori2 kehidupan itu cocok dengan kita, malah ada yang memenjarakan hati kita, seperti yang mungkin dialami oleh emal.
Kalo kembali ke Allah pasti semuanya akan terlalui dengan lancar, amanah akan tertunaikan dengan baik.
Semoga semakin mantap dalam melangkah yah emal.
*halah, apalah saya, hanya orang biasa2 saja berkomentar
*
mas arul
thanks berat mas……..
:/ bingung >_<