Pukul 6 pagi, saya sudah berada di lokasi yang sama dengan survey hari pertama. Bedanya, kali ini saya HANYA menghitung orang yang menggunakan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) untuk menyebrang. Yah…..hanya itu yang harus dikerjakan. Menghitungnya per 15 menit selama 12 jam. Dari pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore. Mudah sekali…………
………….ternyata tidak juga.
Sambil makan roti sebagai sarapan hari itu, 2 jam pertama masih biasa-biasa saja. Mengamati orang yang lewat lalu mencatatnya di kertas yang tersedia. Pagi hari adalah jam sibuk semua orang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka yang menyebrangi jembatan pun begitu. Konsentrasi penuh….lagi semangat-semangatnya nih.
Tidak persih di atas jembatan. Kali ini saya hanya mengamati dari kejauhan asalkan masih bisa terlihat lalu lintas penyebarang jalan. Saya pilih di jalan masuk kompleks perumahan karyawan Bank Mandiri. Banyak pohon, tempatnya sejuk, pas sekali. Sampai datang satpam kompleks bertanya…
“Ngapain dek?” tanyanya mengintrogasi.
“Lagi survey pak, saya dari ITS mau ambil data jembatan ini.”
Saya mengerti sekali saya berada di komplek. Kecurigaannya beralasan dan seertinya tidak terlalu suka saya berdiam di sana. Seharian lagi. Tapi mendengar kata ITS mencari data, sang satpam agak melunak. Tapi tetap saja……
“Kalo surveynya dari luar kompleks bisa gak dek, takut ganggu penghuni yang lewat jalan ini.”
“Kata polisi yang di sana saya malah di suruh ke sini pak. Kalo saya parkir motor di pinggit jalan besar malah ganggu,”
” Oh gitu, ya sudah.”
Hiahaaaaaa. Sedikit tak enak hati saya bohongi satpam itu. Pasalnya, saya merasa benar. Jika saya memarkir motor di bawah jembatan dan tidak di komplek itu, akan sangat mengganggu penggunana jalan. Hemm…..gunakan polisi untuk melawan satpam. Gunakan dekan untuk melawan dosen. Heheeee
3 jam berlalu. Berarti sudah pukul sembilan. Tandanya sudah 12 shif per 15 menit saya hanya mengamati orang yang menggunakan jembatan. Sungguh merupakan hal yang membosankan. Kantuk mulai meradang. Tapi tidak boleh tidur. Tidak ada teman bicara, teman disapa. Kurang 9 jam, jenuh sudah menyerang. Sampai akhirnya datang seekor yuyu (sejenis kepiting kecil).
“Hei yuyu….ngapain kamu? Mana temen-temenmu?”
“Oh kamu juga sendiri, berarti kita sama donk. Eh aku boleh tanya gak?”
“Kenapa sih kamu jalannya selalu miring, gak capek tuh?”
Dan sang yuyu masih terus berjalan miring sambil sesekali berhenti.
“kamu koq diem aja? Sariawan ya?”
“Atau jangan-jangan kamu bisu? Ada ya yuyu yang bisu?”
“Eh..jawapen ndul. Gundul-gundul adekku, apa kamu bisu?” (inget waktu Maba)
Entah sadar atau tidak saya berbicara dengan yuyu itu. Aneh memang tapi koq keliatannya mengasyikkan. Untung saja tidak ada yang lihat. Dan si yuyu pun masuk ke lubangnya
“Eh yuyu….kamu mau ke mana? Temani aku di sini!”
“Oh…tidak….yuyu jangan tinggalkan aku!”
Apakah saya gila? Sepertinya sih begitu
Beberapa menit berselang, rasa bosan itu kembali menyerang. Counting masih dilakukan dan semakin menambah kepenatan. Sepertinya saya bakal stress. Senjata pamungkas belum keluar. Sengaja akan dikeluarkan jika benar-benar stres mencapai puncak. Sampai seekor ulat bulu berwarna hitam kemerahan datang menghampiri.
“Eh……ngapain kamu, pergi kamu. Jangan dekat-dekat!”
“Kamu memang cantik, tapi kamu gatel.”
“Kamu indah dan lucu, tapi kamu bisa membuatku menggaruk-garuk kegatelan.”
“Pergiiiiiiiiiiiiii……!”
Sepertinya stress saya sudah mencapai puncak.
Saya keluarkan juga radio kecil itu. Pasang headset dan cari musik enak. Mau bawa mp3 tidak bakal tahan sampai 12 jam. Radio ini saja entah bagaimana nasibnya beberapa jam ke depan. Yang penting saya tidak stres sekarang. Karena tugas belum selesai. Meski begitu, saya jadi nyanyi-nyanyi sendiri. Atau kadang berlagak layaknya drumer saat suara drum beraksi. Atau bergaya seperti gitaris band saat musik memperdengarkan suara gitarnya. Saya sudah tidak peduli jika ada yang melihat. Karena orang stres tidak peduli apa-apa. Siapa juga yang peduli pada orang stres.
Sedikit membantu juga radio tadi, sampai tak terasa waktu menunjukkan 11.15. Karena hari itu adalah Jumat saya harus menghubungi teman.
Saya (S) : Hei Bro….kamu nganggur kan, bisa gantiin aku gak?
Teman (T) : Ngapain?
S : Aku lagi survey seharian, cuma aku mau ada perlu sebentar. Kamu di mana, bisa gantiin aku gak?
T : Sekarang? Aku lagi di kampus?
S : Nanti, waktu istriku mau ngelahirin. Yah sekarang lah.
T : Waduh gak bisa, bentar lagi Shalat Jumat. Abis jumatan aja gimana?
S : wah…aku butuh kamu sekarang. Ini ada jihad bro. Penting mana jihad ma Shalat.
T : Shalat Jumat kan wajib, dalam jihad pun kita tidak boleh meninggalkan shalat.
S : tapi jihad juga penting kan. Apalagi jihad yang satu ini. Bisa yah kamu gantiin aku?
T : Survey aja dibilang jihad. Gak bisa bro…Shalat Jumat itu wajib.
S : jangan salah Bro….apa yang kita lakukan ini salah satu bentuk jihad. Jihad melawan segala bentuk kemacetan, kerusakan jalan, dan ketidaknyamanan pengguna jalan. Ini jihad besar Bro……jihad kemanusiaan.
T : kamu sendiri mau ke mana, koq minta ganti?
S : Shalat Jumat…….
Asw,
Woi dasar ya…
g nyangka ah..bs jg emal b’bicra dan bahkan mengerti bhsa hwn…
so..emal masuk spesies mana nieh??????(2009X)
@Bunda
bakat lama yang terpendam Bun
karena bisa dengan spesies mana saja ya masuk dalam famili homo sapiens…..alias manusia juga