Tanggal 21 April itu hari apa?
Hari Selasa
Trus……tanggal 22 April itu hari apa?
Habis Selasa, ya hari Rabu donk
Bagaimanapun juga tanggal 22 April masih kalah pamor dari tanggal 21 April. Bukan karena hari Selasa lebih populer dari hari Rabu. Bukan pula karena angka 21 sering digunakan dalam permainan poker. Tapi karena 21 April adalah Hari Kartini. Hari lahirnya sosok perempuan Indonesia yang pernah ada dan akan terus menjadi cerita bangsa. Lalu ada apa dengan 22 April? Kita bahas nanti setelah Kartini. Membicarakan perempuan memang selalu lebih mengasyikkan.
Banyak kegiatan dilakukan dalam memperingati Hari Kartini. Dari tingkat TK sampai perguruan tinggi rame-rame bikin acara. Dari RT-RW sampai mereka-mereka di elit pemerintahan ikut-ikutan ngeramein tanggal 21 April. Gelar seminar bertemakan perempuan, wanita, cewek, woman, muslimah sampai sekedar pakai batik atau kebaya selama sehari. Semua wanita ingin merefleksikan diri menjadi se-Kartini mungkin. Gak boleh? Tentu saja boleh……siapa yang larang.
Lalu apa yang dilakukan para pria pada tanggal 21 April. Saya pun tak ingin tahu. Tapi bagi saya, hari Kartini adalah saat yang tepat untuk mencari istri. Tapi karena-katanya-sekarang ini zamannya emansipasi, biarkan perempuan-perempuan itu yang datang menghampiri, sedangkan aku menunggu saja di sini. Berharap datangnya seorang bidadari, refleksi dari seorang Kartini………..hihiiiiiiiiiiii.
Sampai malam menjelang berganti hari, tak ada juga Kartini-kartini itu menghampiri. Tidak juga dengan kartini-kartinian, padahal sudah isi baterai Hp full. Bersiap menerima ribuan SMS atau telpon dadakan. Tak apalah……kita tunggu saja 21 April tahun depan. Uhuu…uhu.
Tapi saya teringat sesuatu. Sore 21 April itu ternyata ada seorang perempuan yang menghubungi saya. Seorang Kartini sejati bagi saya. Kartini yang selalu merindukan saya. Kartini yang tak pernah lekang dimakan waktu dalam memberikan kasih sayangnya untuk saya. Kartini yang tak terpisah oleh jarak untuk terus mendoakan saya. Kartini yang selalu ikhlas memberi perhatiannya, tenaganya, waktunya, bahkan airmatanya. Kartini itu……..Ibu saya. Yah…..Cuma dia yang menghubungi saya. Bodohnya saya tak menyangkanya. Hinanya saya tak mengharapkannya.
***
Benar kan? Membicarakan perempuan memang asyik dan melenakan sampai lupa dengan 22 April. Tak banyak yang tahu bahwa 22 April adalah Hari Bumi. Lebih sedikti lagi yang tau kenapa 22 April bisa jadi hari Bumi. Parahnya, lebih banyak lagi yang berkarakter so what? Emang kalo hari Bumi mau ngapain?
Sudahkah kita mengurangi emisi kendaraan? Sudahkah kita mengurangi penggunaan AC? Sudahkah kita menghemat kertas? Sudahkah kita menghemat penggunaan lampu? Sudahkah kita? Sudahkah kita? Sudakah kita? Bukan meniadakan tapi mengurangi. Bukan menghilangkan, tapi meng-efisiensi.
Hari ini, 22 April, saya hanya bisa berjalan kaki menuju kampus. Kegiatan yang sudah jarang saya lakukan.
Sekali lagi, benar kan? Membahas perempuan butuh paragraf lebih banyak daripada membahas bumi. Apa jadinya Bumi jika tidak ada perempuan? Hemm……
Asw,MaL..
Nongol lg nie…
ya..2..ya..t’nyata se1 emal makin narsis ja..
x ni t’tipu nie…
Bund kirain blog ni m’bahas mslh atwpn crt ttg SUBHANALLAH ny p’juangan se1 prempuan…T’nyata…………
…..(^_”)….
@bunda
waalaikumsalam
kan dah dibilang, narsis tanda kedewasaan
lagian tanpa dibahas pun, perjuangan seorang peremuan sudah sangat luar biasa.