Beberapa hari lalu saat akhir pekan saya telah dikhianati. Mungkin si pengkhianat tidak bermaksud berkhianat. Tapi saya mencoba untuk merasa dikhianati. Saya mencoba untuk marah. Saya ingin mengelola emosi saya. Dalam hal ini bagaimana mengatur rasa marah saya. Kata temen di psikologi, jika pengelolaanya benar itu membantu menyehatkan jiwa. Emang saya sedang “sakit”?
Ceritanya saat saya harus ke kampus untuk memberikan sebuah buku dan e-book yang akan dipinjam. Rencananya pagi itu saya akan melakukan survey. Tak apalah saya sempatkan ke kampus dulu. Kami bersepakat pagi itu bertemu di kampus. Tapi sampai waktu yang ditentukan, dia tak kunjung datang. Saya SMS…………dan balasannya adalah “maaf, gak jadi. Deadline-nya hari ini.”
Ahhh……tidak. Sia-sia saya bela-bela ke kampus. Padahal Shubuh-nya dia mengatakan akan menemui di kampus. Dasar perempuan.*Y^&^& (loh koq bawa-bawa jender…)
Saya bingung deadline apa. Mungkin buku yang akan saya pinjamkan dibutuhkan untuk tugasnya atau apalah. Tapi dia tak pernah memaksa untuk segera. Kesepakatan kami pagi itu. Berarti tidak ada masalah. Sampai beberapa waktu kemudian saya tahu untuk apa buku itu. Itupun dari orang lain.
Jadi ceritanya dia akan mengikuti PSI 3 (semacam pelatihan tingkat akhir pada kajian kampus). Buku itu sebagai syarat resume untuk menjadi peserta. Deadlinenya pagi itu. Dan dia tidak pernah bercerita. Padahal malamnya sempet menawarkan diri mengambil buku itu di rumah. Tapi saya bilang saya tidak di rumah. Diapun sekali lagi tidak memaksa. Kenapa tidak dia bilang saja kalau dia mau ikut PSI3 dan butuh mendesak? Setidaknya saya bisa menyempatkan diri. Kenapa dia diam? Tidak mau orang lain tahu dia sedang ikut PSI3?
Ternyata beberapa orang di sekitar kita masih malu untuk menunjukkan kebaikan yang diperbuatnya. Mungkin mereka tidak ingin terlihat sombong. Mereka ingin men-cap diri mereka lowprofile. Tapi mungkin mereka tidak sadar sedang menunjukkan kesombongan untuk tidak berbuat sombong. Toh…..sepertinya tidak ada yang salah jika kita mengungkapkan kebaikan yang kita perbuat atau keunggulan-keunggulan kita. Setidaknya orang lain tahu dan bisa menirunya. Daripada harus berada pada kemunafikan.
Saya masih marah….dan ingin terus marah. Marah itu sehat (sekali-kali).
wah sapa tuh..?
yang sabar donk menghadapi seorang wanita?
ehehehehhe
@fajjar
dah tau pake nanya Jar….