Beberapa hari lalu ada materi menarik dari Mabit Teknik Sipil. Sebenarnya materinya biasa saja dan sudah banyak dibahas serta sudah tidak asing lagi. Umum banget lah. Tapi yang menarik adalah hubungannya dengan jurnalistik. Koq bisa…..karena saya hubung-hubungkan saja. Pemateri membahas tentang ilmu malam itu. Ya, segala seluk beluk terkait ilmu yang disampaikan dalam 5W + 1H. Jurnalistik banget bukan. Heheeee. Padahal jurnalistik itu bagian dari ilmu.
Kita sudah tahu kalo 5W 1H itu adalah what, who, where, when, why, and How. Berikut akan saya review secara super singkat.
What is ilmu? Ilmu itu ya whatever. Segalanya adalah ilmu. Karena segalanya adalah milik Allah maka semua ilmu adalah milik Allah, baik itu Kauliyah dan Kauniyah. Begitu pula dengan duniawi maupun Ukhrawi, semuanya milik Allah. Karena itu seharusnya tidak ada pemisahan antara ilmu duniawi dan ukhrawi. Lantas kenapa pelajaran agama ada sendiri terpisah dengan yang lain? Mengapa pula ada pesantren yang hanya mengajarkan ilmu ukhrawi? Bukankah semua ilmu itu milik Allah. Pelajarilah semua dengan seimbang.
Berbicara when. Ilmu juga whenever. Pelajarilah ilmu kapan saja. Bahkan Rasulullah pernah memerintahkan untuk menuntut ilmu sedari menyusui sampai berada di liang lahat. Hemmmm…kapan saja. Yah….kapan saja.
Ilmu juga bersifat whereever. Pelajarilah ilmu di mana saja. Bahkan sampai ke negri Cina. Begitu kata Hadits. Kalo semisal pusat keilmuan bidang kita di Eropa, kenapa tidak kita menuntut ilmu di sana.
Kepada siapa kita menuntut ilmu. Tentu saja Whoever. Kepada siapa saja. Bahkan Rasulullah pernah meminta tawanan perang Badar untuk mengajari anak-anak Madinah membaca dan menulis.
Kemudian Why? Karena tidak ada sepertinya whyever. Kenapa harus menuntut ilmu? Salah satunya adalah karena ilmu merupakan syarat diterimanya ibadah. Jelas donk, bagaimana beribadah kalo gak tau ilmunya, adabnya, aturannya. Selain itu, jangan pula mengikuti sesuatu tanpa mengetahui apa-apa terkait yang kita ikuti (QS 17:36). Dan yang tak kalah penting adalah regenerasi. Dengan menimba ilmu, maka generasi berikutnya tidak akan kehilangan ilmu pula karena generasi sebelumnya tidak menuntut ilmu. Itulah mengapa saat perang, tidak semua boleh ikut perang. Harus pula ada yang menuntut ilmu, menjaga ilmu, agar generasi berikutnya masih pula mewarisi ilmu tersebut.
Lalu bagaimana atau How menuntu ilmu? Kalo ini sih terserah kita aja enaknya gimana. Banyak metode bisa dilakukan, tinggal pakai saja yang cocok.
Tambahan…….
Orang yang berilmu itu ditinggikan derajatnya oleh Allah ketimbang yang lain
Orang berilmu itu bahkan lebih utama daripada ulama
So…..ayo menuntut ilmu!
Asw,Mal
Yups…SETUJU..
1 hal lg yg perlu diingat,m’nuntut ilmu tdk hanya /dilembaga formalitas coz t’nyata ilmu bs kita dptkan dr UNPAD (Universitas Pengabdian dan Dedikasi/bingung Ya??).Maksudnya dlm hdp yg kita jalani masing2 jg bnyak ilmu t’sirat..
So..jgn lupa cr hikmahnya dsetiap cerita hidup yg kita lalui baik itu sdih,susah pa lagi senang..
He2 (^_^)
@bunda
boleh——boleh