Ketika Cinta Bertasbih sebenarnya tidak masuk dalam daftar tonton film bulan ini. Novelnya juga tidak baca. Yah….mungkin nanti suatu saat. Berawal dari teman-teman alumni meminta saya mengkoordinir dan memesankan tiketnya tepat di hari pertama pelucuran KCB di bioskop. Mau tidak mau saya juga harus pesan, suka tidak suka saya juga harus nonton. Dan ternyata saya suka…..cukup suka.
Memakai para pendatang baru yang dipilih melalui audisi, KCB ingin menampilkan sesuatu yang berbeda dari saudaranya sebelumnya, Ayat-ayat Cinta yang juga berasal dari novelnya Habiburrahman El Shirazy. Pilihan yang cukup pintar saya rasa, karena Kang Abik dan sutradara langsung dapat memilih pemain yang sesuai dengan karakter tokoh. Pun demikian, akan ada wajah-wajah baru dalam perfilman Indonesia. Hasilnya pun tidak terlalu buruk untuk pendatang baru.
Semua alur dalam film sengaja dibuat sepersis mungkin dengan novelnya (begitu kata media). Inilah yang membuat film ini harus dibagi dua menjadi KCB 1 dan KCB 2 karena total durasi mencapai 240 menit. Efeknya, film menjadi banyak bercerita. Punya fokus tapi sering berbelok-belok, bahkan ada beberapa yang sebenarnya tidak masalah jika tidak dimunculkan karena tidak akan mengganggu cerita (fokus) sebenarnya. Meski demikian, adegan-adegan yang berbelok-belok tadi cukup cerdik diakali untuk lebih mengenalkan karakter tokoh, menyampaikan pesan-pesan lain, atau untuk sekedar membuat penonton terbahak.
Diawali dari sudut-sudut Kairo dan Alexandria membuat film ini memang memiliki nilai plus. Hanya saja beberapa scene ada yang dikomputasi. Secara umum sinematografinya sih oke, tapi saya tidak merasa Alexandria secantik yang sering dibicarakan. Niatnya sih bagus, tapi kurang berhasil. Berbagai rasa dalam film ini cukup menjadi hiburan bagi penonton, sedih, kecewa, tertawa, sampai menahan haru, juga penasaran. Semua didukung oleh kuatnya alunan buatan Anto Hoed dan Melly Goeslow, tak usah diragukan lagi.
Tidak membaca novelnya membuat saya tidak tahu mana yang lebih baik antara novel dan film. Tidak pula saya tahu bagaimana Chairul Umam mengimajinasikan isi buku dalam bentuk film. Satu hal yang jelas adalah pesan yang disampaikan dalam film ini. Inilah kekuatan film ini dan yang menjadi maksud dari Kang Abik. Pesan-pesan pernikahan disampaikan secara apik dan lugas, mengalir begitu saja namun mendalam. Isu poligami diungkap secara santun namun mengena. Tentang cinta, bagi saya ini yang agak berlebihan, terlalu melayu sekali. Mungkin karena saya sudah bosan dengan cinta dalam teori.
Mengikuti tren film sekarang, KCB pun tak bisa lepas dari membumbui film dengan dialog kocak, adegan lucu, ataupun ekspresi tawa. Penonton memang senang tertawa (tapi tidak berlebihan), maka sah-saha saja Chairul Umam juga menonjolkan hal itu.
Satu hal yang tidak terlalu saya suka adalah tidak independen-nya film ini. Ada iklan dalam bberapa adegan. Secara jelas, iklan itu memang sengaja ditampilkan bahkan melalui dialog. Mirip dengan apa yang ada dalam sinetron Ramadahn Para Pencari Tuhan. Jengah juga saya lama-lama.
Keseluruhan, KCB mencerminkan sekali ke-melayu-an film ini. Alurnya mendayu-dayu dan diaolognya merdu. Nilai 9 untuk pesan yang di bawa. 7 untuk gambar. 9 untuk musik, 6 untuk alur yang terlalu lama dan berbelok-belok, dan 2 karena menampilkan iklan (jujur saya tidak suka). Nilai 7 untuk KCB…………….ini nilai saya, anda tidak suka, diam saja! Selanjutnya, saya ingin baca novel keduanya agar bisa membandingkan anntinya..
Fenomena KCB
Terbukti bahwa tema dan isi akan mempengaruhi jumlah penonton. Lihat saja laskar pelangi yang laris manis. Pun begitu dengan KCB yang mampu menarik penonton non-penikmat film. Terlebih bagi mereka yang senang dalam nuansa Islami. Berduyun-duyun datang ke bioskop. Apalagi temanya tentang pernikahan. Anak muda mana yang tidak suka….. . Sebuah pelajaran bagi para pemuat film.
Emal says,, “Apalagi temanya tentang pernikahan. Anak muda mana yang tidak suka….. .”
termasuk adek kah?? ^^
Saya mau tahu , jumlah penonton film KCB sampai saat ini, syuron
Nice review bro
salam kenal
@tsabita
hemmmm….mungkin saya pengecualian. bosen kali ya mbak!?
@Fikri
wah…saya kurang tahu. bukan bagian dari produksi…..ntar deh kalo saya bikin film bahasa jawa, judulnya “Wayah Tresno Wiridan” heheeeee
@iman
tengkiyu, salam kenal yang lebih hangat
Untung belum nonton, dari cerita anak-anak banyak yang kecewa gara-gara To Be Continued.
Ah mending nonton Garuda di dadaku saja…
“Apalagi temanya tentang pernikahan. Anak muda mana yang tidak suka….. .”
ada aja mas yang ga suka.anak SMA mungkin lebih snengnya yg pacaran2 doang hehe
filmnya bagus.at least klo dibandingin sama ayat2 cinta ya, masi mending ini menurutku.pemilihan aktor/aktrisnya yg paling berpengaruh rasanya.klo kastingnya aja dites bacaan Qurannya jelas klo euforianya terasa smp ke film, in my humble opinion lhoo
habis nton langsung ke toko buku nebeng ngintip novelnya. klo saya sih rasanay lebih milih filmnya soalnya di novelnya bahasanya lebih mendayu-dayu lagi..ah dasar melayu!:p
@lutfiana
seharusnya tubikontinyud itu justru bagus…membuat orang penasaran. tapi karena bukunya dah ada jadi ya gak penasaran lagi. boleh kecewa tapi salah kalo ke tubikontinyud-nya
garuda di dadaku….mengecewakan (tunggu ulasannya)
@misstyzha
pilihan pemain sih oke….tapi menurutku masih mending ayat-ayat cinta lah…terutama bagaimana membawakan sebuah film (bukan sinetron).
kalo filmnya lebih bagus dari bukunya mungkin saya setuju meski hanya baca novel yang kedua. melayu adalah kita. kita adalah melayu. tidak perlu malu
tiga kata ketika selesai menonton KCB “SAYA SANGAT KECEWA”
@Hani
sepertinya gak sendirian yang kecewa….yang lain pun seperti itu. untungnya saya tidak berharap-harap amat…jadi tidak kecewa-kecewa banget
Assalamu’alaikum wa rohmatulloh wa barokatuh
Terus terang saya baru tahu ada film sesantu, berkualitas dan mendidik seperti ini, dibandingkan dengan film2 religi terdahulu yang menampilkan adanya kemaksiatan dan para pemaiinnya juga diluar film tidak sesuai dengan peran mereka di film religi yang mereka perankan, ya saya sih, terus terang bangga dengan para pemain KCB mereka benar2 luar dalam yang insya Alloh sholeh dan sholeha.
cuma saya kecewa dengan penyanyi soundtracknya KCB, lagu2nya sesuai dengan isi film dan bukunya, seharusnya teh melly, embak KD dan neng ayu shita memakai menutup aurotnya juga, karena ini kan film dakwah , jadi tidak pantas untuk buat video klip dengan tidak menutup aurot, dan akan lebih baik lagi seperti contoh film religi yang terdahulu seperti tokoh aisyah (aac) dan anissa (pbs) walaupun mereka dilaur film tidak menutup aurot tapi mereka bisa konsisten. ^^
Jazakumulloh katsiron
mantap, lanjutkan…