Garuda di Dadaku adalah film yang paling saya tunggu di bulan Juni. Saya cari tahu tentang film itu sebelum menontonnya, saya download soundtrack-nya, saya unduh trailernya, dan banyak lagi modal yang saya kumpulkan sebelum menontonnya. Saya optimis inilah film yang paling ditunggu keluarga di Indonesia, untuk mengisi liburan tentunya. Namun ternyata saya kecewa, saya dikecewakan.
Apa yang saya harapkan dari Garuda di Dadaku adalah rasa. Rasa semangat, rasa bangga, dan rasa patriotisme, selain pesan-pesan lain yang ingin disampaikan film itu. Sayang, semua tidak saya dapatkan selain kenyataan bahwa sepakbola Indonesia tidak maju karena frame berpikir manusia Indonesia masih seperti itu-itu juga. Jalannya cerita tak ubahnya film kebanyakan, kekurangannya adalah Isa Ifansyah yang kurang apik membawakan film. Pengalamannya dalam film-film pendek dan beberapa video klip ternyata tidak cukup mumpuni untuk film berdurasi agak panjang. Subjektif harus saya katakan, Isa tidak mampu membawa penonton untuk lebih semangat, lebih bangga dan meninggi patriotismenya.
Meski begitu, film ini memang layak untuk keluarga dan memang pantas untuk ditunggu. Standar saya memang tinggi, tapi cukuplah untuk ukuran keluarga yang ingin menyemangati anak-anaknya. Soal pemain, saya hanya menyayangkan Ikranegara yang berakting tak sebaik dalam Laskar Pelangi. Terasa sekali itu bukan karakternya. Dan terakhir salut untuk Netral yang mampu memberi semangat dalam ending film. Dengan beat mirip lagu Lintang, lagu Garuda di Dadaku cukup mengobati kekecewaan saya. Nilai 7 untuk Garuda di Dadaku, itupun karena tidak tega.
King, Denias jilid 2
King sebenarnya tidak begitu ngebet untuk saya tonton. Tapi justru film inilah yang benar-benar berasa dan cukup menguras emosi. Menonton King mengobati kekecewaan saya pada Garuda di Dadaku. Saya merasakan semangat, saya bangga, saya bersyukur memeliki Indonesia, dan saya ingin berbuat lebih untuk itu. King mengalahkan Garuda di Dadaku, karena memang badminton lebih di hati rakyat Indonesia dibanding sepak bola.
Alur cerita tak jauh berbeda dengan Garuda di Dadaku. Namun King lebih sarat pesan, dan bedanya adalah dialirkan begitu saja, alami. Lebih top lagi, Ari Sihasale sukses memainkan emosi penonton. Saya pikir, tujuan film ini yang diinginkan Ari dan Nia telah tercapai. Badminton adalah olahraga nasional, olahraga rakyat tepatnya, olahraga yang telah membawa harum nama Indonesia. Dan untuk sukses, butuh kerja keras. Proses inilah yang ditampilkan secara apik dan natural oleh Ari. Bravo King.
Menonton King, secara sadar kita dibawa kembali menonton Denias, Senandung di Atas Awan yang juga diproduseri oleh Ari dan Nia Zulkarnaen. Dalam Denias kita mengenal Denias dan keinginannya untuk sekolah, dalam King kita disuguhi Guntur yang ingin menjadi pemain badminton seperti idolanya, Liem Swi King. Baik Denias maupun Guntur memiliki orang-orang di sekitarnya yang selalu mendukungnya dan berperan peniting dalam kesuksesannya.
Niatan Ari dan Nia untuk mengeksplor Indonesia juga tetap dipertahankan dengan menyuguhkan gambar-gambar keindahan alam Indonesai. Bumi Papua nan indah dalam Denias dan keelokan Pegunungan Ijen dalam King. Kawah Ijen, desanya, hutannya, rusanya, belerangnya, dikupas habis tanpa meninggalkan cerita utama. Membuat saya semakin ingin ke Ijen. Semakin ingin……
Bagi yang sudah menonton Denias maupun King, mungkin tanpa sadar kita bisa melihat mobil yang sama. Jepp putih yang dibawa Marcella Zalianty dalam Denias dan dalam King dibawa oleh Wulan Guritno. Setting lokasi membuat mobil itu memang layak ada dalam film. Saya menunggu, jangan-jangan dalam film Nia dan Ari berikutnya juga ada.
Untuk tokoh yang dipilih saya juga acungi jempol. Tidak terlalu bermasalah dalam hal ini, terutama pilihan pintar untuk Mamiek Prakoso, saya suka aktingnya sama seperti pilihan Ninik L Karim untuk memerankan ibunya Azzam dalam film Ketika Cinta Bertasbih. Hanya saja, tokoh Wulan Guritno dalam cerita agak tidak berguna selain menjadi pelengkap tokoh ibu Michele (diperankan anaknya Jeremy Thomas). Dialognya pun masih kaku untuk setting di desa. Namun kekuatan karakter menutupi itu semua.
Dan itu semua tak akan sempurna tanpa musik dari Aksan Sjuman dan Titi Sjuman. Dua orang yang telah sukses dalam banyak film ini berada di balik kejeniusan memadukan karakter, emosi, alam, dan rasa melalui alunan-alunan ciptaan mereka. Suara Ipang yan mengisi beberapa lagu pun terasa pas sekali.
Akhirnya, saya beri nilai 9 untuk King.
Kemenangan telak King atas Garuda di Dadaku menurut saya adalah music ending dalam film ini. Jika Garuda di Dadaku menampilkan lagu dengan judul yang sama dari Netral, maka King menyuguhkan Indonesia Raya dari WR Supratman. Lebih hidup dan mengoyak emosi. Saya terharu…..King adalah film ketiga yang membuat air mata saya menetes.
“Saya terharu…..King adalah film ketiga yang membuat air mata saya menetes…”
hahaha gampang mewek ternyata ni orang.
Pilem yang pernah bikin ane nangis gila2an cuman satu, pilem lawasnya Russel Crowe, A Beautiful Mind.
good2… sy malah belum nonton dua2nya
ehm..namanya IFA ISFANSYAH. bukan ISA IFANSYAH
standar saya juga tinggi. tapi kalau mau mengkritik satu film, setidaknya saya bisa menulis nama sutradaranya dengan benar
@lutfiana
ya bolehlah….
@errick
silakan ditonton kalo begitu
@Lut_fi
mohon dimaafkan!!!
masih saudara ya ma sutradaranya??
@ lutfi : aku juga nangis nonton king, pas lagu indonesia raya
“Membuat saya semakin ingin ke Ijen. Semakin ingin……”
sama, jadi pengen ke ijen gara2 nonton king. tapi sayangnya ga kesampean. untungnya ada upacara di bromo, lumayan terbayarkan walopun ga kesampean ke ijen.
@anya
Titi ma Aksan emang top banget deh