Feeds:
Pos
Komentar

GARUDAKU HARUS BISA MAIN SEPAKBOLA !!!_

Marah, jengkel, geram, kesal, gusar,,,,,,
perasaan apalagi yang bisa mewakili perasaan kecewa seluruh pecinta timnas merah putih ketika diajarin main sepakbola oleh Oman di KANDANG KITA sendiri..

Yupz….. anomali tercipta ketika pernyataan Bung Bendol yang menjanjikan permainan menyerang berbanding terbalik dengan kenyataan dan aplikasi para punggawa merah putih dilapangan. Alih-alih menginginkan poin sempurna demi mengamankan peluang lolos ke Qatar 2011, eh, malah indonesia harus ikhlas memutuskan langganan sebagai peserta piala asia sejak 1996.

Dengan menurunkan formasi 4-3-3 yang seharusnya merupakan formasi menyerang,, ternyata Charis cs harus lebih banyak menguras tenaga akibat gawang Markus Horison yang malam itu diserang habis-habisan dari segala penjuru areal permainan oleh Oman. Trio striker yang di turunkan tidak mampu membuat pertahanan lawan ketar-ketir, begitu juga dengan trio gelandang yang tidak mempunyai visi permainan. Akibatnya permainan lini tengah dikakuisisi sempurna oleh Timnas Oman.

Berbagai alasan yang dikambing hitamkan bendol tak lagi mampu meredam kekecewaan insan pecinta Timnas yang mayoritas terlanjur memvonis bahwa kepengurusan PSSI sekarang tak lagi pantas untuk memimpin organisasi sepakbola terbesar di Indonesia.

Inikah cerminan sebuah timnas yang mendambakan menjadi host piala dunia 2022 ???
Inikah prestasi timnas yang diinginkan seluruh pecinta sepakbola tanah air ???
Inikah hasil dari kepengurusan dinasti Nurdin Halid ???
atau, head coach timnas yang tak sanggup di emban oleh bendol ???
tolong, bagi siapa yg bisa menjawab harus berani mengutarakan alasan dan masukan yang bersifat membangun !!!

Baiklah, saya coba menganalisis beberapa penyebab prestasi Timnas yang mengecewakan.

Pertama Lanjut Baca »

Di Ujung Madura Ku BerAsa

Rindu ranjauku
Rinduku ranjau
Rinduku ranjauku
Rinduku rinduku
Ranjauku ranjauku

Ranjau rinduku
Ranjauku rindu
Ranjauku rinduku
Sampai rinduku ranjauNya

Tidak hilang asa karena berdosa
Tidak cukup dosa berubah asa
Bukan mencoba menjadi nafsu
Bukan nafsu mengubah cobaan
Haruskah laku digapai diantara luka semampai
Mengapa harus menjadi jika sudah terjadi

Rindu ranjau
Ranjau rindu
Di Madura ranjauNya rinduku
Ranjauku rindunya…

Memulai Apa yang Telah Dimulai

Ada orang yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan banyak masalah dalam waktu bersamaan. Sebagian orang menyelesaikan banyak masalah dengan cara satu persatu. Kebanyakan orang hanya bisa menyelesaikan sedikit masalah. Yang jelas, semua orang bisa menyelesaikan masalah. Karena setiap orang selalu mendapatkan ujian dalam hidupnya.

 

Orang pertama tidak akan dipusingkan oleh berapapun masalah menerpanya. Orang jenis ini juga tidak memusingkan deadline atau sesedikit apapun waktunya. Masalahnya tinggal kualitas penyelesaian masalah. Ada yang sempurna, dan lebih banyak yang kurang memuaskan.

 

Orang kedua sangat bisa seperti orang pertama untuk menyelesaikan banyak masalah. Masalah dirinya adalah Lanjut Baca »

Nyanyian Jermal

1
…………
Tali-tali mengiris kulit
Dan angin mengiris…….sukma
Darah yang merah menyebar di air
Airnya menjauh meluas tumpah ruah
Menusuk panggung jermal
Airnya menusuk diantara retakan-retakan papan
Menggenang di tengah-tengah angin yang kencang
Terkungkung dalam aroma udara yang asin
Terpuntir dalam lubang-lubang jaring……….di sana
Di antara papan lembab yang menjulang dari tubuh ratu samudra
Ada yang berjalan dalam bayang-bayang………..

2
Ya iya dia gondrong, karena dia bunuh orang…..langsung aja lah

1
Itu ditulis di akhir

2
Lama kali…sudah banyak yang mengantri di sini

1
Aku belum siap!

3
Iya, dia bunuh orang
Jadi ngapain pake terkungkung lah, terentang lah, terpuntu lah, lembab lah
Alah…cepatlah
Dah banyak ngantri di sini

1
AKU BELUM SIAP!!

Garuda di Dadaku adalah film yang paling saya tunggu di bulan Juni. Saya cari tahu tentang film itu sebelum menontonnya, saya download soundtrack-nya, saya unduh trailernya, dan banyak lagi modal yang saya kumpulkan sebelum menontonnya. Saya optimis inilah film yang paling ditunggu keluarga di Indonesia, untuk mengisi liburan tentunya. Namun ternyata saya kecewa, saya dikecewakan.

Apa yang saya harapkan dari Garuda di Dadaku adalah rasa. Rasa semangat, rasa bangga, dan rasa patriotisme, selain pesan-pesan lain yang ingin disampaikan film itu. Sayang, semua tidak saya dapatkan selain kenyataan bahwa sepakbola Indonesia tidak maju karena frame berpikir manusia Indonesia masih seperti itu-itu juga. Jalannya cerita tak ubahnya film kebanyakan, kekurangannya adalah Isa Ifansyah yang kurang apik membawakan film. Pengalamannya dalam film-film pendek dan beberapa video klip ternyata tidak cukup mumpuni untuk film berdurasi agak panjang. Subjektif harus saya katakan, Isa tidak mampu membawa penonton untuk lebih semangat, lebih bangga dan meninggi patriotismenya.

Meski begitu, film ini memang layak untuk keluarga dan memang pantas untuk ditunggu. Standar saya memang tinggi, tapi cukuplah untuk ukuran keluarga yang ingin menyemangati anak-anaknya. Soal pemain, saya hanya menyayangkan Ikranegara yang berakting tak sebaik dalam Laskar Pelangi. Terasa sekali itu bukan karakternya. Dan terakhir salut untuk Netral yang mampu memberi semangat dalam ending film. Dengan beat mirip lagu Lintang, lagu Garuda di Dadaku cukup mengobati kekecewaan saya. Nilai 7 untuk Garuda di Dadaku, itupun karena tidak tega.

King, Denias jilid 2
King sebenarnya tidak begitu ngebet untuk saya tonton. Tapi justru film inilah yang Lanjut Baca »

Home

Jika anda mengaku pencinta lingkungan, jika anda mengaku peduli pada global warming, dan jika anda menaruh perhatian besar pada bumi, maka anda sudah harus menonton Home. Jika anda fotografer, jika anda suka membuat film, maka ada juga harus sudah menonton Home?

Home. Sebuah film dokumenter luar biasa tentang bumi. Film dokumenter yang ber-genre sama seperti An Inconveniant Truth dan Earth. Saya ketinggalan film Earth, jadi tidak tahu seperti apa dan bagaimana film itu. Namun saya pernah menyaksikan An Inconveniant Truth, jadi bisa membandingkannya dengan Home. Lanjut Baca »

Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih sebenarnya tidak masuk dalam daftar tonton film bulan ini. Novelnya juga tidak baca. Yah….mungkin nanti suatu saat. Berawal dari teman-teman alumni meminta saya mengkoordinir dan memesankan tiketnya tepat di hari pertama pelucuran KCB di bioskop. Mau tidak mau saya juga harus pesan, suka tidak suka saya juga harus nonton. Dan ternyata saya suka…..cukup suka.

Memakai para pendatang baru yang dipilih melalui audisi, KCB ingin menampilkan sesuatu yang berbeda dari saudaranya sebelumnya, Ayat-ayat Cinta yang juga berasal dari novelnya Habiburrahman El Shirazy. Pilihan yang cukup pintar saya rasa, karena Kang Abik dan sutradara langsung dapat memilih pemain yang sesuai dengan karakter tokoh. Pun demikian, akan ada wajah-wajah baru dalam perfilman Indonesia. Hasilnya pun tidak terlalu buruk untuk pendatang baru.

Semua alur dalam film sengaja dibuat sepersis mungkin dengan novelnya (begitu kata media). Inilah yang membuat film ini harus dibagi dua menjadi KCB 1 dan KCB 2 karena total durasi mencapai 240 menit. Efeknya, film menjadi banyak bercerita. Punya fokus tapi sering berbelok-belok, bahkan Lanjut Baca »